Widie Nurmahmudy dan Sekolah Tanpa Dinding Bernama Batara

Di Banyuwangi yang dekat dengan garis hutan, Kampung Papring berdiri seperti halaman yang lama ditinggalkan dari buku besar pembangunan. Akses jalan buruk, jarak dari pusat kota tidak jauh namun kampung ini pernah diasingkan. Di mata luar, kampung ini pernah disematkan banyak label: miskin, tertinggal, bahkan tidak layak diperhitungkan.

Namun di tempat inilah Widie Nurmahmudy (44) pendiri sekolah adat Kampoeng Batara, memilih kembali.

“Saya lahir besar di sini, sekolah juga di sini. Ini tanah kelahiran,” katanya pelan, seolah tidak sedang bercerita tentang hidupnya, melainkan sedang menata ulang cara orang melihat kampungnya sendiri.

Tidak ada kisah spektakuler dalam versi Widie tentang dirinya. Ia menyebut dirinya “anak kampung biasa”. Tetapi justru dari kesederhanaan itulah Batara lahir, sebuah ruang belajar alternatif yang ia bangun bersama warga, anak-anak, dan pengalaman pahit yang tidak ia romantisasi.

Batara bukan sekadar tempat. Ia adalah ruang anak-anak yang merdeka.

Sebuah ruang literasi yang tumbuh dari kegelisahan terhadap pendidikan yang dianggap terlalu sering meminggirkan cara belajar lokal, terlalu sibuk menilai, dan terlalu jauh dari realitas kampung.

Kampung yang pernah kehilangan nama

Papring, kata Widie, pernah hidup di bawah bayang-bayang stigma. Dicap miskin karena akses jalan yang buruk. Dianggap tidak berpendidikan karena banyak anak tidak melanjutkan sekolah. Bahkan identitas kampung kerap disembunyikan oleh warganya sendiri.

“Orang dulu kalau ditanya dari mana, tidak menyebut Papring. Mereka menyebut Kalipuro saja,” ujarnya.

Stigma itu tidak hanya melekat di luar, tetapi juga di dalam diri warganya. Rasa bangga perlahan menghilang, digantikan rasa ingin bersembunyi.

Namun Widie melihat hal lain dari luka itu, potensi untuk membangun ulang makna pendidikan dari bawah.

Batara tidak dibangun dengan kurikulum kaku. Ia tumbuh dari interaksi, dari cara anak-anak bergerak, bermain, dan merespons dunia.

“Kami tidak memberi mimpi tentang pekerjaan. Kami membangun skill,” kata Widie.

Di Batara, anak-anak bukan objek pengajaran. Mereka justru menjadi bagian dari proses pembelajaran itu sendiri. Bahkan dalam banyak kasus, mereka “mengatur” ruang belajar.

Tidak ada pengawasan ketat, tidak ada tekanan nilai sempurna. Yang ada adalah tanggung jawab moral dan ruang untuk bertumbuh.

“Kalau diawasi, mereka akan menyesuaikan diri dengan selera kita. Tapi kami ingin mereka jujur dengan dirinya,” tambahnya.

Pendekatan ini melahirkan hal yang tidak biasa, kurikulum yang justru ditemukan dari perilaku anak-anak sendiri.

Permainan tradisional, aktivitas berkebun, membaca alam, hingga membaca tanda-tanda sederhana seperti capung dan musim panen semuanya menjadi bagian dari literasi.

Melawan pendidikan yang seragam

Bagi Widie, masalah terbesar pendidikan bukan hanya soal metode, tetapi juga cara pandang.

Ia mengkritik pendidikan yang menurutnya terlalu transaksional, terlalu menilai kecerdasan hanya dari hal yang bisa diukur di atas kertas, dan terlalu sering melupakan pengetahuan lokal.

“Ilmu itu ada di kampung. Skripsi saja semua pasti kembali ke kampung,” ujarnya.

Ia menyebut bahwa banyak pengetahuan yang tidak pernah masuk ruang kelas: cara membaca cuaca, memahami tanaman, hingga etika hidup bersama alam.

Di Batara, bambu, kebun, tanah, dan interaksi sosial menjadi ruang belajar yang sah.

Dalam pandangan Widie, konsep “maju” tidak bisa diseragamkan.

“Kalau orang kota bilang maju itu cepat, kami di sini mungkin lambat tapi selamat,” katanya sambil tersenyum kecil.

Ia melihat teknologi tidak selalu membawa kemajuan sosial. Dalam beberapa hal, justru mempersempit ruang gotong royong, musyawarah, dan interaksi langsung.

Namun ia tidak menolak teknologi. Ia hanya menolak menjadikannya satu-satunya ukuran kemajuan.

Baginya, kampung yang mampu menjaga pangan, lumbung, dan pengetahuan lokal justru lebih “maju” dalam makna tertentu daripada kampung yang hanya mengejar modernitas visual.

Empati sebagai fondasi

Yang membuat Batara bertahan, menurut Widie, bukan sistem, bukan dana, dan bukan kurikulum.

Tetapi empati.

Ia menyebut dirinya bukan pengajar, melainkan pembelajar dari anak-anak yang ia dampingi.

“Mereka memberi pelajaran tanpa menggurui,” katanya.

Dalam ruang itu, Widie belajar mengelola emosi, belajar mendengar, dan belajar tidak menghakimi.

Ia menyadari bahwa banyak anak yang disebut “nakal” sebenarnya sedang mencari ruang untuk dipahami.

Harapan Widie untuk anak-anak Batara sederhana, mereka boleh pergi sejauh apa pun, tetapi tidak kehilangan akar.

“Silakan berenang ke mana saja, bahkan ke luar negeri. Tapi muaranya tetap kampung,” ujarnya.

Baginya, kampung bukan batas, melainkan pusat kesadaran.

Bahkan jika tubuh mereka pergi, pikiran dan empati mereka diharapkan tetap kembali untuk membangun ulang ruang yang pernah melahirkan mereka.

Di tengah perdebatan tentang pendidikan, kemajuan, dan modernitas, Batara berdiri seperti catatan kaki yang sering diabaikan, tetapi justru menyimpan pertanyaan paling penting: siapa yang sebenarnya disebut belajar, dan siapa yang sebenarnya disebut mengajar?

Di Papring, jawaban itu tidak datang dari ruang kelas. Ia tumbuh dari tanah, dari relasi, dan dari keberanian untuk tidak selalu mengikuti definisi yang sudah jadi.

Dan Widie, dengan segala kesederhanaannya, memilih untuk terus tinggal di sana, di antara luka stigma dan kemungkinan yang pelan-pelan tumbuh.

Artikel yang Direkomendasikan