
Di sebuah mal yang sibuk di selatan Jakarta, orang-orang berjalan dengan tas belanja di tangan kanan dan katalog pameran di tangan kiri. Di antara etalase parfum dan gerai mode, lembaran-lembaran kertas digantung dengan hati-hati, disusun, dipotong, dilipat, ditekan, dijahit.
Kertas.
Medium yang selama puluhan tahun dianggap sekadar tahap awal. Sketsa. Draft. Latihan sebelum “karya sungguhan” hadir di atas kanvas.
Pada 8 Februari 2026, di Pondok Indah Mall, stigma itu digugat melalui Art Jakarta Papers, edisi khusus berbasis medium kertas dari Art Jakarta. Sebanyak 28 galeri terlibat, 22 dari Indonesia dan 6 dari negara Asia lain. Sebanyak 9.289 pengunjung tercatat hadir hingga hari terakhir penyelenggaraan.
Namun pertanyaan yang lebih penting bukan berapa orang yang datang
Melainkan, mengapa kertas baru sekarang diberi panggung utama?
Mengapa Kertas Selalu Dianggap Sementara?
Dalam sejarah seni rupa modern Indonesia, medium yang dominan dan “diakui” selalu berkisar pada kanvas dan patung. Cat minyak memberi kesan monumental. Patung menghadirkan bobot fisik. Keduanya menawarkan durabilitas dan, tak bisa dimungkiri, gengsi pasar.
Kertas berada di ruang lain. ia rapuh, mudah menguning, sensitif terhadap cahaya, suhu, dan waktu. Ia dianggap tidak abadi. Dalam logika kolektor tradisional, keabadian sering disamakan dengan nilai investasi.

Adinda, Communication Manager Art Jakarta Papers, menyadari persepsi itu.
“Kertas itu punya kerentanan. Tapi yang ingin kami sampaikan, publik fokus pada konten dan konsepnya, bukan sekadar bahannya.”
Kalimat ini menjadi upaya membalik narasi lama. Selama ini, medium menentukan kelas. Kini, gagasan ditempatkan di depan.
Namun stigma tidak lahir dalam ruang kosong. Ia terbentuk dari sejarah pasar.
Pasar Seni yang Melambat dan Medium yang Bernegosiasi
Laporan Art Basel & UBS Art Market Report 2023 mencatat bahwa nilai pasar seni dunia turun sekitar 4 persen pada 2022 dibanding tahun sebelumnya, dengan pelemahan terutama pada segmen ultra high-end. Transaksi pada kategori harga menengah relatif lebih stabil.
Di Asia, termasuk Asia Tenggara, pasar tetap bergerak tetapi lebih selektif. Kolektor menjadi lebih berhitung. Harga, ukuran, dan risiko penyimpanan menjadi pertimbangan.
Dalam konteks ini, medium kertas menemukan momentumnya.

Andoniwati, pemilik Galeri Art Sociates, menyampaikan secara terbuka kondisi pasar hari ini.
“Karena kondisi ekonomi dan politik sangat jelek, market juga jelek. Karya yang harganya sudah tinggi agak susah dijual. Yang affordable jauh lebih gampang dijual.”
Ia juga menyebut bahwa penurunan penjualan mulai terasa sejak 2024, setelah sempat melonjak pada masa pemulihan pascapandemi.
Meski demikian, hasil di Art Jakarta Papers melampaui ekspektasinya.
“Lebih bagus dari ekspektasi,” ujarnya.
Menurutnya, biaya partisipasi galeri berada di kisaran Rp40 juta untuk booth, di luar pajak dan kebutuhan teknis tambahan yang bisa mencapai sekitar Rp50 juta.
Karya berbasis kertas umumnya lebih terjangkau dibanding lukisan kanvas skala besar atau patung monumental. Ia lebih fleksibel dalam distribusi dan penyimpanan. Secara psikologis, risiko investasi terasa lebih kecil.
Art Jakarta sendiri selama 15 tahun dikenal sebagai barometer pasar seni Indonesia. Kehadiran edisi khusus “Papers” bisa dibaca sebagai respons terhadap dinamika pasar yang berubah.

Adinda menambahkan, “Kertas banyak merekam kejujuran, banyak seniman sebelum melukis membuat sketsa dulu di kertas. Kami merasa ada daya tarik disitu”
Pertanyaannya, Apakah kertas naik kelas karena estetikanya diakui, atau karena ia lebih selaras dengan daya beli yang sedang melemah?
Politik Material: Ketika Kertas Menjadi Sikap
Dalam sesi artist talk di Pondok Indah Mall 3, 8 Februari 2026, Widi Pangestu, Irfan Hendrian dan Rudy Atjeh memaparkan memaparkan praktik mereka, dipantik pertanyaan dari moderator, Enin Supriyanto .

Rudy mengatakan, “Saya tidak terlalu dekat dengan pasar. Setiap karya saya selalu kembali ke rumah, karena instalasi saya sangat fragile.”
Fragile. Rapuh.
Di tangan seniman, kata itu berubah makna. Kerentanan bukan lagi kelemahan, melainkan bahasa.
Widi Pangestu bercerita tentang eksperimen membuat kertas dari 70 jenis tanaman. Dari jenis arak yang menghasilkan warna keunguan alami, hingga bagian dalam kulit kayu.
“Setiap negara selalu menggunakan material yang dekat dengan lingkungannya.”
Kertas menjadi arsip ekologis. Ia membawa jejak tanah, serat, dan pengetahuan lokal. Dalam praktik seperti ini, kertas bukan alternatif murah, melainkan keputusan politis.
Irfan Hendrian menambahkan bahwa selama satu decade terakhir, stigma pasar terhadap medium non-konvensional cukup terasa. Namun ia melihat perubahan mulai terjadi.
Rudy menegaskan, “Apapun yang dikerjakan seniman itu bukan karena materialnya, tapi bagaimana ia menyampaikan gagasan dan narasinya ke dalam karyanya. Terlepas dari apa itu hasil akhir karyanya.”
Demokratisasi dan Batas-Batasnya
Art Jakarta Papers berlangsung di ruang mal, bukan museum. Ia berdiri di tengah lalu lalang konsumen, bukan di lorong institusi seni. Bagi sebagian orang, ini bentuk demokratisasi. Publik dapat mengakses karya tanpa beban psikologis ruang elit.

Namun bagi yang lain, kehadirannya di pusat konsumsi menegaskan komodifikasi. Seni berdampingan dengan etalase mode dan gerai parfum. Kertas tidak hanya dipamerkan, tetapi juga dipertukarkan.
Laporan Art Basel & UBS Survey of Global Collecting 2025 menunjukkan generasi kolektor baru, terutama millennials dan Gen Z, lebih sering membeli prints, fotografi, dan works on paper dibanding generasi sebelumnya. Mereka juga cenderung membeli langsung dari studio seniman atau melalui media sosial, bukan semata melalui lelang atau galeri konvensional.
Artinya, ada pergeseran cara transaksi dan struktur selera. Medium yang dulu dianggap sekunder menemukan audiens baru yang lebih cair dan lebih terbuka pada karya yang terjangkau serta berbasis pengalaman.

Adinda mengakui tantangan utama mereka,
“Tantangan utama adalah mengenalkan ke publik sebenarnya apa itu Art Jakarta Papers.”
Jumlah galeri dibatasi sekitar 30 untuk menjaga suasana tetap intim. Fokus utama masih pada galeri lokal dengan partisipasi terbatas dari Asia. Format ini menciptakan ruang yang lebih terkendali, namun sekaligus menunjukkan bahwa mekanisme seleksi tetap berada di tangan galeri.
Di titik inilah paradoksnya muncul.
Demokratisasi medium tidak otomatis berarti demokratisasi akses.
Dari Bidang Gambar ke Tokoh Utama
Di akhir diskusi, Enin Supriyanto menyatakan,
“Kertas bukan lagi sekadar menjadi bidang gambar, tapi bahan utama yang menjadi tokoh utama.”
Pernyataan itu menandai pergeseran paradigma. Jika dulu kertas hanya latar, kini ia berdiri di depan.
Namun Apakah stigma “kelas dua” benar-benar runtuh?
Belum sepenuhnya.

Dominasi medium konvensional masih terlihat dalam pasar lelang global. Pada 2023, lukisan Portrait of Elisabeth Lederer karya Gustav Klimt terjual sekitar US$236,4 juta dalam lelang Sotheby’s di New York, mempertegas bahwa nilai tertinggi pasar masih didominasi lukisan modern berskala monumental.
Pada hari terakhir itu, ketika transaksi dicatat dan karya-karya dibungkus untuk dikirim, kertas berdiri bukan lagi sebagai medium alternatif, melainkan sebagai pernyataan. Ia menunjukkan bahwa nilai tidak selalu lahir dari ketebalan material atau harga yang melambung, tetapi dari keberanian gagasan yang ditopangnya.
Jika pergeseran ini bertahan melampaui momentum pameran, maka yang berubah bukan hanya posisi kertas, melainkan struktur cara kita menilai seni.
