Oleh: Sinar Surya Purnama
Ada waktu-waktu tertentu ketika saya merasa hidup ini bergerak terlalu cepat, seolah-olah ada mesin raksasa yang berputar di bawah kaki kita dan tak memberi kesempatan untuk berdiri diam. Pagi datang bersama daftar kewajiban. Siang lewat bersama kecemasan. Malam jatuh dengan tubuh lelah yang tidak tahu untuk apa ia letih. Besoknya semua berulang. Hari-hari tersusun rapi seperti rak di gudang, penuh barang, tetapi miskin arti.
Kita menyebut ini kemajuan.
Saya tidak tahu sejak kapan manusia menerima bahwa kesibukan adalah kehormatan. Barangkali sejak ia mulai malu terlihat senggang. Barangkali sejak ia percaya bahwa nilai dirinya terletak pada seberapa padat jadwalnya. Kini orang meminta maaf karena terlambat membalas pesan, tetapi jarang meminta maaf karena telah lama meninggalkan dirinya sendiri.
Di jalan, saya melihat wajah-wajah yang berangkat terlalu pagi. Di kafe, saya melihat tangan-tangan yang tak pernah lepas dari layar. Di rumah, saya melihat tubuh yang hadir, tetapi pikiran mereka masih bekerja di tempat lain. Dunia tampak penuh perjumpaan, namun manusia makin sulit bertemu dirinya.
Inilah kemenangan dari kapitalisme. Ia tidak menaklukkan manusia dengan rantai. Ia memberinya keinginan. Ia tidak memerintah dengan teriakan. Ia berbisik melalui iklan, angka, gengsi, dan rasa takut tertinggal. Ia membuat orang percaya bahwa berlari adalah pilihan bebas, padahal lintasan telah dibuat jauh sebelumnya.
Kita membeli banyak benda agar merasa utuh. Kita mengumpulkan pengakuan agar merasa nyata. Kita bekerja sampai lupa mengapa kita mulai bekerja. Segala sesuatu bertambah, kecuali kedalaman.
Lalu pada suatu saat, entah di sela malam yang terlalu senyap atau setelah hari yang terlalu ramai, seseorang bertanya pada dirinya sendiri: apakah ini hidup, atau hanya kebiasaan yang dipercepat?
Pertanyaan semacam itu jarang disukai zaman. Ia berbahaya karena dapat menghentikan mesin, walau hanya sejenak.
Saya kira di situlah tasawuf bermula. Bukan di menara sunyi, bukan di kisah-kisah ajaib, melainkan pada kegelisahan manusia yang menolak hidup sebagai kebiasaan kosong. Tasawuf lahir ketika seseorang memandang dunia dan berkata, ada sesuatu yang salah dalam cara aku mencintainya.
Banyak orang mengira tasawuf adalah meninggalkan dunia. Mereka keliru. Yang ditinggalkan bukan dunia, melainkan mabuk terhadap dunia. Yang dijauhi bukan benda, melainkan perbudakan pada benda. Seorang zahid tidak selalu miskin. Ia hanya menolak diukur oleh apa yang dapat dihitung.
Ada kebebasan yang aneh pada orang yang mampu berkata cukup. Dunia modern tidak mengenal kata itu. Ia hanya mengenal lebih. Lebih cepat. Lebih tinggi. Lebih ramai. Lebih kaya. Bahkan penderitaan pun kini harus dipamerkan agar bernilai. Maka ketika seseorang berkata cukup, ia terdengar seperti pemberontak yang berbicara dalam bahasa asing.
Saya pernah membayangkan Albert Camus berjalan di pasar modern yang penuh cahaya. Ia mungkin akan tersenyum pahit melihat manusia mengisi kekosongan dengan troli. Camus tahu bahwa absurditas bukan hanya lahir dari benturan antara manusia dan alam semesta yang bisu. Ia juga lahir ketika manusia terus menambah benda pada hidup yang tak pernah sempat ia pertanyakan.
Namun para sufi mengetahui sesuatu yang lain. Mereka tahu bahwa kekosongan tidak bisa diusir dengan penumpukan. Lubang batin tidak tertutup oleh benda karena ia bukan lubang benda. Ia adalah ruang yang menuntut makna.
Di sinilah tasawuf dan eksistensialisme saling menyapa dari kejauhan. Yang satu berkata, manusia harus memilih hidupnya sendiri. Yang lain berkata, manusia harus membersihkan dirinya agar tahu apa yang layak dipilih. Yang satu memberontak terhadap absurditas. Yang lain memberontak terhadap kelalaian. Keduanya menolak tidur dalam hidup yang belum diperiksa.
Ada orang-orang yang tampak menang menurut ukuran zaman, tetapi kalah di hadapan cermin. Mereka memiliki nama, jabatan, pengikut, rekening, jadwal. Namun ketika malam menutup pintu dan tak ada penonton tersisa, mereka berhadapan dengan seorang asing di dalam dada. Tidak semua kekalahan terdengar gaduh.
Tasawuf mengajarkan bahwa musuh paling tekun bukanlah dunia di luar, melainkan kerakusan yang menetap di dalam. Kapitalisme memahami ini dengan sangat baik. Karena itu ia terus memelihara kerakusan, lalu menjual obat untuk luka yang ditimbulkannya sendiri. Ia menanam rasa kurang, lalu menawarkan diskon sebagai penghiburan.
Maka perlawanan tidak selalu perlu bendera. Kadang ia bermula ketika seseorang makan tanpa pamer. Bekerja tanpa menyembah kerja. Memiliki tanpa dimiliki. Diam tanpa merasa kalah. Pergi tanpa ingin dilihat. Pulang tanpa membawa iri hati.
Tindakan-tindakan itu tampak kecil. Tetapi seluruh kekuasaan besar takut pada hal kecil yang tak bisa dibeli.
Saya tidak sedang memuji kemiskinan atau menyerukan pengasingan diri. Roti tetap perlu. Rumah tetap perlu. Keadilan ekonomi tetap perlu diperjuangkan. Tetapi ada kenyataan yang lebih tua dari pasar dan lebih dalam dari politik, yaitu bahwa manusia bisa kehilangan jiwanya bahkan ketika semua kebutuhannya terpenuhi.
Betapa ganjil nasib kita. Kita belajar menguasai jarak, tetapi tidak sanggup mendekati diri sendiri. Kita menaklukkan waktu dengan mesin, tetapi selalu terlambat memahami hidup. Kita dapat membeli kenyamanan, tetapi tidak ketenteraman.
Mungkin karena itu saya semakin curiga pada kehidupan yang terlalu bising. Kebisingan sering dipakai untuk menutupi kehampaan. Dan saya mulai mengerti mengapa para pencari Tuhan memilih keheningan. Bukan karena mereka membenci dunia, tetapi karena hanya dalam sunyi manusia mendengar rantai yang selama ini ia seret sendiri.
Jika ada harapan bagi manusia modern, mungkin ia tidak datang sebagai teori baru atau aplikasi baru. Mungkin ia datang sebagai keberanian lama yang sederhana: berhenti sejenak, memeriksa keinginan, menolak beberapa undangan dunia, lalu berkata kepada diri sendiri, aku ingin hidup, bukan sekadar berlangsung.
Di zaman yang memuja percepatan, barangkali langkah paling revolusioner adalah berjalan pelan menuju jiwa sendiri.
