Art Jakarta kembali memperluas cakupannya melalui gelaran Art Jakarta Paper, yang berlangsung pada 5–8 Februari 2026 di City Hall, Pondok Indah Mall 3, Jakarta Selatan. Edisi perdana ini menghadirkan 28 galeri dari Indonesia dan kawasan Asia yang menampilkan karya berbasis medium kertas.
Sebagai bagian dari rangkaian program Art Jakarta, pameran ini secara khusus menyoroti eksplorasi kertas sebagai medium artistik, mulai dari gambar, lukisan, hingga pendekatan eksperimental lainnya.
Di antara puluhan galeri tersebut, sejumlah karya seniman perempuan turut menarik perhatian. Beberapa galeri menghadirkan praktik artistik yang mengeksplorasi tubuh, identitas, hingga pengalaman batin melalui pendekatan visual yang personal.
Galeri Artsociates, misalnya, membawa karya Mella Jaarsma dan Henryette Louise. Pemilik Artsociates, Andonowati, mengatakan kedua seniman tersebut konsisten mengolah pengalaman personal sebagai bagian dari praktik artistik mereka.
Menurut Andonowati, Mella kerap mengangkat gagasan tentang “second skin” atau kulit kedua sebagai metafora identitas dan persona.
“Mela itu biasanya berbicara tentang second skin. Bagaimana kita mengenakan baju, baju apa yang kita pilih, itu menjadi second skin yang belum tentu karakter asli kita. Sesuatu yang berkaitan dengan what we want, sesuatu yang kita inginkan menjadi bagian dari karakter kita dan sebagainya. Bisa ekspresi tubuh secara jujur, atau bisa jadi sebagai manifestasi dari kepribadian ganda,” tutur Andonowati.
Melalui medium kertas, eksplorasi tersebut menghadirkan refleksi mengenai tubuh dan lapisan identitas yang dikenakan, sekaligus mempertanyakan batas antara diri yang otentik dan citra yang dibentuk.
Sementara itu, karya Henryette Louise ditampilkan dalam bentuk figur dan objek yang terkesan imajinatif. Andonowati menyebut bentuk-bentuk tersebut berangkat dari pengalaman batin sang seniman.
“Henryette Louise itu seringkali berbicara tentang imajinasi dia yang sebenarnya internal pain yang dia rasakan, yang kemudian muncul dalam bentuk-bentuk objek. Kalau di pameran kami yang sekarang itu unknown creature. Jadi objek-objek yang berkaitan dengan binatang, creature, itu sebenarnya punya makna simbolik tentang kesedihan, internal pain, dan sebagainya yang dia alami selama dia hidup dan menjadi seniman,” paparnya.
Objek-objek yang menyerupai makhluk tak dikenal itu menjadi simbol dari kesedihan dan pengalaman personal yang diterjemahkan ke dalam bahasa visual.
Selain Artsociates, ROH Projects turut menghadirkan karya I Gusti Ayu Kadek Murniasih. Perupa asal Bali yang dikenal luas lewat karya-karya yang secara lugas menampilkan tubuh perempuan, seksualitas, serta pengalaman traumatis yang membentuk perjalanan hidupnya.
Dalam banyak karyanya, Murniasih menggunakan medium kertas dan kanvas untuk menghadirkan figur-figur ekspresif yang sarat simbol. Praktiknya kerap dipandang sebagai salah satu suara penting dalam seni rupa kontemporer Indonesia karena keberaniannya membicarakan tubuh dan pengalaman personal dari sudut pandang perempuan. Meski telah wafat pada 2006, karyanya terus dipamerkan di berbagai ruang seni di dalam maupun luar negeri.
Kehadiran karya-karya tersebut menunjukkan bahwa Art Jakarta Paper 2026 tidak hanya menjadi ruang eksplorasi seni dalam medium kertas saja, tetapi wadah bagi para perempuan perupa untuk mengartikulasikan identitas, imajinasi, serta pengalaman hidup mereka melalui pendekatan visual yang intim dan reflektif.
Penulis: Laras Ciptaning Kinasih
