Catatan dari diskusi bersama Oscar Matuloh
Di ruang kolaborasi Lintas Dua Era Menuju Karya Tanpa Batas, dari Matanesia dan Minggu Motret Surabaya mereka menggelar diskusi dan menghadirkan fotografer senior dan pendiri Matawaktu, Oscar Matuloh yang bertemakan “Fotografi Jurnalistik dalam Pusaran Akal Imitasi” di Kopilaborasi, Surabaya, Jawa Timur, (26 /01/2026). Fotografi tidak lagi berdiri sendiri. Ia digandeng, dipertanyakan, digugat, bahkan ditantang oleh sesuatu yang oleh Oscar Matuloh disebut sebagai “akal imitasi”. Bukan sekadar kecerdasan buatan dalam pengertian teknis, melainkan sistem yang mampu meniru ingatan, meniru imajinasi, dan perlahan mengambil alih keduanya dari manusia.
Di tengah banjir visual yang makin tak terbendung, pertanyaannya menjadi sederhana sekaligus genting: masihkah fotografi jurnalistik menjadi kesaksian, atau ia akan larut menjadi ilustrasi yang terlalu sempurna untuk dipercaya?
Ketika Foto yang Tak Pernah Terjadi Menang
Pada 2023, fotografer Jerman Boris Eldagsen memenangkan kategori kreatif dalam ajang Sony World Photography Awards. Karyanya, berjudul Pseudomnesia: The Electrician, tampak seperti potret hitam putih yang intim dan melankolis. Dua perempuan, satu lebih tua, satu lebih muda, berdiri dalam komposisi yang memanggil nostalgia kolektif. Cahaya jatuh lembut. Ekspresi wajah menyimpan luka dan rahasia.
Masalahnya, foto itu tidak pernah dipotret!

Boris menolak penghargaan tersebut dan mengungkap bahwa karya itu sepenuhnya dihasilkan oleh AI. Ia menyebut tindakannya sebagai bentuk edukasi. Ia ingin menguji sistem, sekaligus mengingatkan dunia fotografi bahwa batas antara dokumentasi dan fabrikasi telah runtuh.
Oscar mengutip peristiwa itu sebagai titik tolak diskusi.
“Betapa rentannya kita,” ujarnya. “Tapi juga kita harus yakin dengan kemampuan yang kita miliki, dengan kejujuran hati kita untuk menyampaikan melalui fotografi apa adanya.”
Dalam kasus Boris, yang dipermasalahkan bukan sekadar penggunaan AI, melainkan konteksnya. Ketika sebuah karya visual masuk dalam kompetisi fotografi, publik berasumsi bahwa ia lahir dari proses memotret. Ada kamera, ada subjek, ada momen. Jika yang terjadi adalah konstruksi 24 layer prompt dan komposit digital, maka yang diuji bukan lagi mata, melainkan kemampuan merangkai instruksi.
Oscar menyebut ini sebagai pergeseran profesi. Ke depan, kata dia, “AI akan menjadi profesi baru. Lu jadi pakar dalam melakukan prompt.”
Prompt sebagai kepakaran. Prompt sebagai kuas baru. Prompt sebagai ruang kompetisi.
Namun bagi fotografi jurnalistik, persoalannya tidak sesederhana itu.
Dari Mesin Cetak ke Kamera, Lalu ke Algoritma
Untuk memahami pusaran ini, Oscar mengajak audiens mundur ke abad ke 15, saat Johannes Gutenberg memperkenalkan mesin cetak. Revolusi pertama. Dunia memasuki masa pencerahan. Teks yang sebelumnya ditulis tangan kini dapat digandakan secara massal. Alkitab dan Alquran menyebar. Pengetahuan meluas.
Revolusi kedua datang pada 1839, saat fotografi diumumkan ke publik di Paris. Gambar tak lagi harus dilukis. Ia bisa “ditangkap” oleh cahaya.

Namun sejak awal, fotografi tidak pernah sepenuhnya netral. Oscar mengingatkan bahwa foto pertama yang dikenal luas, Boulevard du Temple karya Louis Daguerre, diambil dengan waktu paparan sekitar 10 hingga 20 menit. Orang-orang yang bergerak menghilang dari bingkai. Yang tersisa hanya sosok yang cukup lama diam.
“Foto pertama pun sudah menipu,” kata Oscar. “Ini distrupsi.”
Ia tidak mengatakan bahwa fotografi adalah kebohongan. Ia mengatakan bahwa fotografi selalu merupakan hasil pilihan teknis. Exposure panjang membuat keramaian tampak sepi. Long exposure malam hari membuat mobil menjadi garis cahaya yang indah, padahal mata manusia tak pernah melihat jalan seperti itu.
Fotografi, sejak awal, adalah interpretasi.
Namun interpretasi berbeda dari fabrikasi. Di sinilah AI menghadirkan lapisan baru yang jauh lebih kompleks.
Imajinasi yang Dirampas
“Ingatan kita sudah dirampas oleh mesin pencari,” ujar Oscar.
“Imajinasi kita dirampas oleh akal imitasi.”
Pernyataan itu tidak metaforis. Di era mesin pencari dan generative AI, manusia tak lagi perlu mengingat detail, tak lagi perlu membayangkan secara mendalam. Cukup ketik perintah, dan gambar pun hadir.
Dalam film A.I. Artificial Intelligence karya Steven Spielberg, seorang anak robot bernama David diprogram untuk mencintai. Ia menyerupai manusia, merindukan kasih sayang, dan bersaing dengan anak biologis dalam sebuah keluarga. Film itu diproduksi tahun 2001, jauh sebelum AI generatif seperti hari ini, tetapi ia telah meramalkan kegelisahan kita.
Begitu pula dalam Minority Report, teknologi mampu memprediksi kejahatan sebelum terjadi. Realitas didahului oleh data.
Oscar menyinggung film-film itu bukan untuk romantisme sinema, tetapi untuk menunjukkan bahwa bayangan tentang AI sudah lama hidup dalam imajinasi manusia. Bedanya, kini ia tidak lagi berada di layar lebar. Ia ada di gawai, di meja redaksi, di ruang kelas.
Jurnalistik sebagai Kesaksian
Di sinilah Oscar menarik garis tegas.
“Untuk menyampaikan sebuah kabar tentang kebakaran yang melibatkan 15 orang, 20 orang,
AI mungkin bisa menggambarkan itu sebagai ilustrasi.
Tapi itu bukan kesaksian.”
Dalam dunia dokumenter dan jurnalistik, foto bukan sekadar representasi. Ia adalah bukti kehadiran. Ia lahir dari relasi antara fotografer, peristiwa, dan risiko.
Oscar mengingatkan bahwa hingga hari ini, sektor yang belum sepenuhnya dijangkau AI adalah liputan langsung di lapangan. Demonstrasi, konflik, bencana. Robot mungkin suatu hari bisa hadir dengan kamera di matanya, tetapi sampai detik ini, tubuh manusia masih menjadi medium kesaksian.
Namun ancaman bukan hanya datang dari gambar yang sepenuhnya dihasilkan AI. Ancaman juga datang dari manipulasi halus.
Kasus pemotongan foto oleh fotografer dokumenter terkenal pernah terjadi pada era analog hingga digital. Oscar menyebut praktik seperti menghilangkan elemen yang mengganggu komposisi. Lima orang bisa menjadi dua. Dalam konteks jurnalistik, itu pelanggaran.
Etika jurnalistik di Indonesia diatur oleh Dewan Pers dan organisasi profesi seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Beberapa tahun terakhir, diskursus tentang AI mulai masuk dalam panduan redaksi. Dewan Pers mendorong transparansi penggunaan AI, sementara Project Multatuli memandang AI sebagai alat yang bisa membantu riset, sepanjang integritas tetap dijaga.
Oscar menekankan bahwa AI dapat membantu pekerjaan riset. Ia menyebut contoh penggunaan AI oleh Kompas untuk mengolah data numerik dalam waktu singkat. “Alat itu berguna,” katanya. “Tapi dia tidak bisa membunuh imajinasi yang kita miliki, sepanjang kita memanfaatkannya sebagai tool, bukan sebaliknya.”
Kuncinya adalah posisi. Apakah manusia menggunakan AI, atau AI yang menggunakan manusia.
Hoaks, Trump, dan Mesin Cek Fakta
Oscar juga menyinggung periode ketika dunia mulai akrab dengan istilah “fake news” pada masa kepresidenan pertama Donald Trump. Kampanye politik berbasis disinformasi memperlihatkan bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk memanipulasi opini publik.
Sejak itu, lahirlah berbagai inisiatif fact-checking. Kantor berita besar mengembangkan mesin verifikasi digital. Analisis metadata, pengecekan reverse image search, dan perangkat pendeteksi manipulasi menjadi standar baru.
Namun Oscar realistis. “Maling lima belas langkah lebih maju daripada polisi,” ujarnya.
Deepfake menjadi contoh nyata. Wajah seseorang bisa ditempelkan ke tubuh lain. Suara bisa direplikasi. Kasus penyalahgunaan wajah perempuan untuk konten pornografi sintetis meningkat secara global, sebagaimana dilaporkan berbagai lembaga keamanan siber. Platform berbasis AI yang awalnya tampak remeh seperti filter kartun, ternyata menyimpan risiko pengumpulan data biometrik.
Oscar mengingatkan bahwa preventif lebih penting daripada panik setelah banjir. Edukasi publik, terutama generasi muda, menjadi krusial.
Kepakaran yang Hilang
Salah satu kegelisahan yang muncul dalam diskusi adalah hilangnya kepakaran. Dengan AI, semua orang bisa menghasilkan teks, desain, bahkan skripsi dalam hitungan menit.
“Tidak ada lagi pakar,” kata Oscar. “Semuanya disederhanakan oleh AI.”
Pernyataan ini tentu bisa diperdebatkan. Namun ia menyentuh sesuatu yang lebih dalam: proses berpikir yang dipersingkat. Jika generasi baru terlalu cepat menyerahkan ingatan kepada mesin pencari dan imajinasi kepada generator visual, maka kemampuan reflektif bisa menipis.
Oscar mengajak kembali ke akar. Peradaban lahir dari ide. Ide lahir dari imajinasi. Jika imajinasi diambil alih, apa yang tersisa?
Regulasi dan Peran Juri
Dalam konteks lomba fotografi, pertanyaan tentang regulasi menjadi mengemuka. Bagaimana juri memastikan orisinalitas karya di era AI?
Kasus Boris memperlihatkan bahwa sistem dapat dikelabui. Namun ia juga menunjukkan bahwa transparansi masih mungkin. Boris tidak menerima hadiah material. Ia mengungkapkan metodenya.
Oscar melihat ini sebagai pelajaran. Dunia jurnalistik harus memperkuat mekanisme verifikasi, seperti halnya kantor berita global yang telah mengadopsi perangkat analisis forensik digital. Lembaga penyimpanan arsip visual seperti Getty Images bahkan secara eksplisit melarang unggahan konten AI dalam koleksi editorialnya.
Perusahaan teknologi raksasa seperti Microsoft dan lainnya mengembangkan sistem pelabelan konten sintetis. Namun teknologi verifikasi selalu berada dalam perlombaan dengan teknologi fabrikasi.
Maka kembali lagi ke integritas.
Integritas sebagai Benteng Terakhir
“Integritas harus dimulai dari kita,” kata Oscar.
“Jangan menyerahkan semuanya kepada mesin pencari.”
Ia tidak menolak AI. Ia menolak ketergantungan tanpa kesadaran. Ia tidak mengutuk teknologi. Ia mengingatkan agar profesi tidak ditinggalkan oleh para pelakunya sendiri.
Dalam bahasa yang sederhana, ia menempatkan jurnalisme sebagai pintu terakhir. Jika semua bisa direkayasa, jika gambar bisa diciptakan tanpa peristiwa, maka publik membutuhkan ruang yang masih memegang prinsip kesaksian.
Jurnalisme bukan hanya soal teknologi. Ia soal keberanian untuk hadir, soal memegang kamera di tengah risiko, soal menyaksikan dan merekam tanpa manipulasi.
Di akhir diskusi, Oscar menyebut bahwa kita tidak boleh hidup dalam romantisme masa lalu. AI ada dan akan terus berkembang. Lima tahun lagi, mungkin besok, ia akan lebih canggih. Ia bisa meniru lebih halus, lebih dalam.
Namun ia belum memiliki hati.
Dan selama manusia masih memilih untuk menjaga hati itu, fotografi jurnalistik masih punya tempat.
Melukis dengan Cahaya, atau dengan Perintah?
Fotografi pernah disebut sebagai melukis dengan cahaya. Kini AI menawarkan melukis dengan perintah. Keduanya menghasilkan gambar. Keduanya bisa indah. Keduanya bisa menyentuh.
Tetapi bagi Oscar Matuloh, perbedaannya bukan pada piksel, melainkan pada proses.

“Dalam pusaran akal imitasi, pertanyaan yang tersisa bukan apakah AI akan menang atau kalah. Pertanyaannya adalah: apakah manusia masih mau bertahan sebagai saksi.” tegas Oscar
Di tengah dunia yang makin tidak jelas mana yang nyata dan mana yang rekayasa, mungkin justru di situlah nilai fotografi jurnalistik menjadi semakin mahal. Bukan karena teknologinya, tetapi karena keberaniannya untuk berkata: ini terjadi, dan saya ada di sana.
