Sinterklas hitam, di saat perayaan natal diselimuti air mata korban repatriasi
Indonesia pernah melewati sebuah peristiwa perayaan natal yang berbalut nuansa kesedihan. Catatan sejarah di penghujung tahun 1957 telah menjadi bukti dari peristiwa pengusiran ribuan penduduk Belanda dan keturunan Indo-Belanda dari seluruh wilayah Indonesia. Peristiwa yang terjadi beberapa hari menjelang perayaan natal tersebut dikenal dengan sebutan Sinterklas Hitam atau Zwarte Sinterklaas dalam bahasa Belanda.
Peristiwa pengusiran tersebut tidak lain adalah sebuah kampanye politik yang muncul akibat perseteruan antara pihak Indonesia dan Belanda sepanjang tahun 1950-1962. Kala itu Indonesia mempertanyakan status penyerahan wilayah Irian Barat atau yang lebih dikenal sebagai Papua.
Belanda yang awalnya menjanjikan akan menyerahkan Papua tepat satu tahun setelah penyerahan kedaulatan di Den Haag pada 1949, kian menunda keputusan penyerahan tersebut. Situasi politik dan buruknya hubungan antara kedua negara telah membawa dampak serius bagi kehidupan sosial masyarakat keturunan Belanda yang tinggal di wilayah Indonesia.
Menurut sejarawan Universitas Utrecht Belanda, Heins Meijer, menyusul gagalnya upaya diplomasi antara pihak Belanda dan Indonesia mengenai status kepemilikan Irian Barat pada tahun 1957, sentimen anti Belanda mencuat dalam diri masyarakat Indonesia. Presiden Soekarno mengenakan status Staatsgevaarlijk atau “bahaya bagi negara” kepada seluruh penduduk berketurunan Belanda yang tinggal di Indonesia. sebanyak 50.000 warga Belanda dan keturunan Indo-Belanda kemudian terusir dan mengalami perampasan aset. Penjelasan itu dituliskan oleh Heins dalam bukunya yang berjudul In Indie Geworteld dan terbit di Amsterdam pada tahun 2004.
“Di atas kapal-kapal yang sesak seperti Willem Ruys, perayaan Natal dilakukan dengan nyanyian lagu gereja yang bercampur dengan isak tangis. Tidak ada kegembiraan. Ribuan orang berdiri di dek kapal, memandang garis pantai Jawa yang perlahan menghilang dalam kegelapan, menyadari bahwa mereka mungkin tidak akan pernah kembali ke tempat leluhur mereka dimakamkan,” ungkap Heins Meijer dalam bukunya itu.
Perayaan natal pada tahun 1957 kian diselimuti ketakutan dan bayang-bayang kesedihan bagi penduduk minoritas tersebut. Peristiwa sinterklas hitam tidak akan pernah luput dari ingatan mereka.
Seorang keturunan Indo-Belanda lainnya bernama Humphrey de la Croix bercerita: “Bagi banyak keluarga Indo, Natal 1957 adalah terakhir kalinya mereka mencium aroma tanah basah Indonesia. Mereka merayakan Natal di tengah koper-koper yang belum tertutup rapat, dalam ketakutan bahwa ketukan di pintu bukan berarti tamu yang membawa kado, melainkan perintah untuk pergi. Mereka adalah orang-orang yang merasa ‘terlalu cokelat’ untuk Belanda, namun ‘terlalu putih’ untuk Indonesia,” tulis sejarawan kelahiran Mojokerto tersebut yang kini menetap di Belanda. Ia dan beberapa rekan senasib nya tersebut menulis kenangan itu di media Indisch Historisch yang terbit pada tahun 2017 lalu.
Terdapat juga kesaksian dari seorang keturunan Indo-Belanda yang diwawancarai oleh stasiun tv Belanda dalam program Andere Tijden. Ia bernama Adriaan van der Staay yang bercerita bagaimana natal terakhir keluarga mereka di Indonesia, “Ibu saya membakar semua foto keluarga dan dokumen di halaman rumah pada malam menjelang Natal, agar tidak jatuh ke tangan massa atau otoritas. Hadiah Natal mereka tahun itu bukanlah mainan, melainkan satu tas kecil berisi pakaian hangat yang terasa asing di kulit mereka yang terbiasa dengan matahari tropis,” ungkap Adrian dalam tayangan tv pada tahun 2005 tersebut.
Surabaya merupakan salah satu kota besar yang menjadi pusat ekonomi dan bisnis sejak era pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Ia menjadi rumah bagi kebanyakan keturunan Belanda selama bertahun-tahun. Menurut arsip terakhir pemerintah kolonial sebelum pendudukan Jepang, tercatat sebanyak 30.000 penduduk Belanda yang tinggal di kota tersebut. Hampir mayoritas dari mereka dipulangkan ke negeri Belanda pasca peristiwa sinterklas hitam.
Referensi:
* Sejarah Sinterklas Hitam 1957 dan Pengusiran Warga Belanda
* Kisah Tragis Natal 1957: Peristiwa Zwarte Sinterklaas di Indonesia
* Dampak Sengketa Irian Barat pada Repatriasi Warga Indo-Belanda
* Sinterklas Hitam: Akhir Perjalanan Warga Belanda di Surabaya
* Fakta Sejarah Pengusiran Ribuan Indo-Belanda Tahun 1957
* Mengenang Peristiwa Sinterklas Hitam dan Tragedi Kapal Willem Ruys
* Latar Belakang Politik Peristiwa Sinterklas Hitam 1957
