Sinaga yang Melawan

Rumah yang memiliki halaman luas dipenuhi bangku-bangku, dihiasi lukisan dan patung-patung, salah satunya sosok Soekarno, presiden Indonesia yang pertama. Pemilik rumah ini adalah Dolorosa Sinaga seorang seniman patung dan aktivis yang selama puluhan tahun konsisten menyuarakan hak asasi manusia. Karyanya telah dipamerkan ke berbagai negara seperti Inggris, Filipina, Italia, Amerika Serikat, Bulgaria, hingga India. 
Ketika ditanya tentang masa kecil, Dolorosa ia memulainya dengan ingatannya yang sederhana.

“Masa kecil saya nggak banyak yang saya ingat. Tapi yang paling saya ingat, saya punya anjing hitam. Saya kerjanya nangis. Kata ibu saya, dari delapan anaknya, yang paling suka nangis itu saya. Dan kalau saya nangis, anjing saya ikut melolong.”

Tangis Dolorosa kecil menjadi awal kepekaan yang terus ia bawa hingga dewasa baik dalam seni maupun aktivisme.

Dolorosa lahir dalam keluarga Batak, kultur yang sangat mengharapkan anak laki-laki. Ayahnya menginginkan anak lelaki setelah tiga anak perempuan lahir sebelumnya.

“Mungkin itu juga yang membuat saya sosoknya perempuan, tapi sifatnya lebih banyak seperti lelaki.”

Ia tumbuh menyukai hal-hal yang kerap dianggap “tidak lazim” bagi perempuan: karate, jiu-jitsu, yudo, sprint, hingga berenang cepat. Namun baginya, persoalan bukan soal maskulin atau feminin.

Perempuan, Negara, dan Pembiaran

“Sejak ratusan tahun lalu perempuan memang dipinggirkan. Karena kultur, karena agama. Sampai sekarang pun masih.”

Dolorosa menyebut banyak perempuan hebat di dunia, termasuk perempuan yang pernah menjadi kepala negara. Namun ia mempertanyakan dampak strukturalnya.
Ia menyinggung persoalan stunting, kesehatan perempuan, hingga pengalaman pandemi COVID-19.

“Itu pembiaran negara yang luar biasa. Negara ini tidak pernah benar-benar lesson learned.”

Bagi Dolorosa, persoalan perempuan selalu berkait erat dengan bagaimana negara mengelola atau justru mengabaikan kehidupan warganya.

Pembicaraan tentang perempuan, bagi Dolorosa, tidak bisa dilepaskan dari tragedi 1965. Ia menyebut peristiwa itu sebagai pembantaian manusia sekaligus penghancuran gerakan perempuan.
“Warisan rezim militer Orde Baru itu jelas: budaya ketakutan, budaya kebencian, dan pembiaran.”

Sebagai seniman dan aktivis yang lama mendampingi penyintas 1965, ia melihat satu persoalan besar yang belum pernah selesai.

“Tidak pernah ada political will dari pemerintah untuk menyelesaikan pelanggaran berat HAM.”

Ia juga mengkritik narasi tunggal yang terus direproduksi tentang peristiwa tersebut.

“Kalau dibilang rakyat yang membantai, itu juga tentakel kekuasaan. Mereka menelan mentah-mentah propaganda Orde Baru.”

Seni sebagai penyembuhan dan perlawanan

Meski kritis, Dolorosa percaya seni adalah ruang yang tidak pernah sepenuhnya bisa dibungkam. Ia mencontohkan Dialita, kelompok penyintas perempuan 1965 yang menyanyi sebagai bagian dari proses pemulihan.

“Dengan menyanyi, mereka mengekspresikan bahwa mereka tidak pernah kalah dan tidak tunduk. Itu proses healing mereka sendiri.”

Bagi Dolorosa, Dialita dan Aksi Kamisan bukan sekadar kegiatan, melainkan monumen hidup.

“Itu institusi yang membuat generasi muda bertanya: kenapa keadilan harus diperjuangkan?”

Keyakinan bahwa seni harus hidup di tengah masyarakat juga diwujudkan Dolorosa melalui pendidikan. Pada 2019, ia menjadi salah satu seniman dalam program Belajar Bersama Maestro (BBM) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, memberikan pendidikan dan pelatihan pematungan bagi pelajar SMA dan SMK.

Ia juga terlibat dalam advokasi kebijakan kebudayaan sebagai salah satu pendiri Koalisi Seni, dan menjabat sebagai Ketua Pengawas hingga 2021.

“Seni itu menggalang kesadaran. Dia membuat orang melihat sesuatu yang tidak pernah diselesaikan, atau tidak pernah diucapkan karena takut.”

Menurut Dolorosa, seni selalu ditakuti kekuasaan karena landasannya adalah kebebasan.

“Semua orang sebetulnya punya kepekaan seni. Dia pilih baju, pilih musik. Itu sudah seni.”

Baginya, seni adalah alat pendidikan untuk menghormati perbedaan.

“Setiap orang punya proses kreatif sendiri. Di situlah harkat seni.”

Sinaga yang melawan
Dolorosa tidak mengklaim dirinya menjadi aktivis karena pengalaman pahit. Ia tumbuh di keluarga yang relatif aman, namun satu kalimat dari orang tuanya terus ia ingat.

“Saya pernah dengar, jalan kesenian itu jalan lelaki. Karena di situ ada kebebasan dan kemerdekaan.”

Perlawanan pertamanya justru terjadi di rumah.

“Saya nggak perlu jadi aktivis untuk melawan kekuasaan. Dari rumah saya sudah jadi aktivis melawan bapak saya.”

Ia menempatkan Gerwani sebagai inspirasi, bukan stigma seperti yang dibentuk propaganda Orde Baru.

“Yang mereka kerjakan itu membuka sekolah. Tapi dipelintir jadi sesuatu yang sangat buruk.”

Bagi Dolorosa, solidaritas adalah alat perlawanan yang selalu lahir dari peristiwa.

“Solidaritas itu gelombang besar. Bisa menggempur benteng yang paling kuat.”

Di akhir wawancara, Dolorosa menyampaikan pesan langsung kepada generasi muda.

“Teknologi itu alat. Kalau dia menguasai kamu, kamu korban teknologi.”

Ia memberi analogi tajam:
“Desain by computer, built by technology, driven by moron. Mau nggak kamu jadi begitu?”

Baginya, teknologi kreatif bisa menjadi alat pembongkar kekuasaan jika digerakkan oleh generasi yang punya arah dan kepekaan.

“Kalau kita diam, kita juga punya andil membiarkan negara melakukan pembiaran.”

Ia menutup dengan satu kalimat tegas:
“Hanya satu kata: lawan kekuasaan.”

https://youtu.be/5HA_jYZYVco?si=0_HVEOX9KD2SxR9X

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *