
Malam 24 Januari 2026 turun pelan di Surabaya. Pantry Sub tidak berubah bentuk, tapi fungsinya bergeser. Ia tidak lagi sekadar kedai kopi. Malam itu, ia menjadi tempat orang-orang menaruh keresahan, menyalakan pikiran, dan saling menguji keberanian untuk berbeda.
Asap rokok menggantung rendah, bercampur dengan aroma kopi yang belum habis diseruput. Suara kursi diseret, gelas beradu, tawa pendek yang cepat tenggelam oleh percakapan serius. Di antara semua itu, satu kegelisahan beredar dari mulut ke mulut: bagaimana tetap menjadi manusia di dunia yang makin lihai merapikan ketidakadilan agar tampak wajar.
Orang-orang datang dengan latar yang beragam. Anak-anak skena duduk bersebelahan dengan pegiat sastra. Seorang pekerja kantoran masih mengenakan kemeja rapi, sementara di sudut lain orang tua muda menyimak sambil memantau balitanya yang sesekali bertanya dengan suara pelan. Tidak ada pagar sosial yang terlihat. Semua duduk sejajar, menyimak, mencatat, atau sekadar menatap kosong sambil mencerna.

Di sela diskusi, pop market berjalan. Lapak baca terbuka, zine dan buku berpindah tangan. Kata-kata tercetak menemukan pembacanya. Acara dimulai, stand up poetry mengambil alih ruang, para pembaca puisi yang bukan seorang penyair, mereka menyelipkan kalimat-kalimat yang tidak berusaha menjelaskan, tapi justru menohok. Ada yang membawakan karya tulisnya, ada yang membacakan puisi milik temannya atau referensi dari buku. Mereka bebas bersyair tanpa penilaian.
Malam itu, Cakrawalakata Movement berkolaborasi dengan Surabaya Under Attack. Literasi dan punk, dua jalur yang sering dipertemukan dalam prasangka, justru bertaut tanpa canggung. Tema diskusi mereka sederhana, tapi berat untuk diabaikan: Literasi Pembangkangan.
Zenda Maurista sebagai moderator memastikan percakapan tetap mengalir. Dua narasumber duduk berhadap-hadapan: Caksu, penggiat zine dari Cakrawalakata Movement, dan Boim dari Surabaya Under Attack, mewakili komunitas punk.
Zine dan Keputusan untuk Tidak Tunduk
Caksu berbicara dengan nada tenang, tapi kata-katanya menyimpan penolakan yang matang. Ia datang dari dunia foto jurnalistik, dunia yang seharusnya memberi ruang pada kegelisahan. Namun justru di sanalah ia merasa dibatasi.

“Aku memilih zine karena aku nggak mau terikat redaksi yang konservatif,” katanya. “Zine itu ruang paling bebas buat gagasan, opini, dan keresahan.”
Baginya, media arus utama terlalu sibuk merapikan kenyataan. Isu kemanusiaan sering diperas menjadi visual yang indah, empati disulap menjadi komoditas, dan penderitaan dipajang tanpa pertanyaan etis. Zine hadir bukan untuk bersaing, melainkan mengganggu.
“Zine memang dikeluarkan supaya berisik,” lanjutnya. “Supaya jadi reminder, supaya orang tetap melek sama isu-isu yang ada.”
Berisik, dalam konteks ini, bukan sekadar suara keras. Ia adalah keputusan sadar untuk tidak menyaring keresahan agar nyaman dikonsumsi. Literasi pembangkangan, bagi Caksu, bukan aksi heroik, melainkan kerja panjang membangun wacana tandingan di tingkat paling dasar yaitu percakapan.
Punk dan Kebebasan yang Dipilih
Boim menyambung dari sisi lain. Punk, katanya, terlalu sering direduksi menjadi atribut. Padahal baginya, punk adalah pilihan hidup.
“Punk itu individu yang punya kebebasan atas hidupnya sendiri,” ujarnya. “Mau jadi apa pun, menulis, main band, foto, atau cuma datang ke gigs dan bayar HTM, itu sudah kontribusi.”
Ia menolak gagasan bahwa pembangkangan harus selalu hadir dalam bentuk dramatis. Tidak semua perlawanan turun ke jalan. Ada yang berdiam dalam lirik, tulisan, atau keputusan untuk tidak ikut merayakan ketidakadilan yang dinormalisasi.
Di Indonesia, kata Boim, situasinya jauh lebih rumit. Menjadi punk berarti siap menghadapi stigma, aturan negara yang menjerat, dan represi yang kadang datang tanpa peringatan.
“Di Indonesia, nulis saja bisa jadi masalah,” katanya singkat. “Beda sama di luar. Jangan samakan punk di luar negeri dan di sini.”
Di titik inilah literasi menjadi alat bertahan, bukan simbol intelektual.
Ketika Literasi Tidak Pernah Netral
Diskusi bergeser pada satu pertanyaan: apakah literasi bisa netral?
Jawabannya tidak perlu diperdebatkan lama. Literasi selalu berpihak. Yang perlu ditanyakan adalah keberpihakannya.
Caksu menyoroti dunia fotografi dan jurnalistik yang terlalu lama bersembunyi di balik estetika. Banyak gambar indah, tetapi kehilangan etika.
“Fotografi itu seharusnya memanusiakan manusia,” katanya, “bukan mengeksploitasi penderitaan demi estetika.”
Empati kini punya harga. Tragedi dikemas agar layak jual. Sementara subjek foto sering kali hanya menjadi objek tatapan. Di sinilah literasi pembangkangan bekerja: menolak normalisasi, mempertanyakan yang dianggap wajar, dan mengembalikan martabat manusia ke pusat cerita.
Perbedaan yang Tidak Harus Diseragamkan
Baik di dunia zine maupun punk, gesekan adalah bagian dari perjalanan. Boim tidak menutup-nutupi adanya konflik internal, senioritas, bahkan bentrok fisik di masa lalu.
“Bentrok itu hal wajar,” katanya, “tapi tidak untuk dibenarkan. Yang penting setelah itu kita belajar dewasa.”
Baginya, perpecahan internal hanya menguntungkan kekuasaan. Kedewasaan lahir dari pengalaman dan literasi yang terus diasah, bukan dari keinginan untuk menang sendiri.
Menjelang akhir, Zenda melontarkan pertanyaan yang terasa sederhana, tapi justru paling sulit dijawab: jika pembangkangan dimulai dari hal paling kecil, apa yang bisa dilakukan hari ini?
Boim menyebut beberapa hal seperti: menyikapi isu, menulis, membuat produk alternatif, hingga membuang sampah pada tempatnya. Semua bermakna jika dilakukan bersama.
Caksu menutup dengan kalimat yang menggantung lama di ruangan.
“Kemampuan mendengarkan perbedaan itu sendiri adalah bentuk pembangkangan.”
Di era media sosial yang gemar mencari kesalahan sebelum memahami konteks, memilih untuk mendengar adalah tindakan yang melawan arus.
Malam itu ditutup tanpa kesimpulan tunggal. Yang tersisa adalah kesadaran bahwa literasi bukan milik kampus, dan punk bukan milik jalanan semata. Literasi pembangkangan bukan soal menjadi paling keras, paling benar, atau paling radikal. Ia adalah upaya terus-menerus untuk tidak tunduk pada ketidakadilan yang dibungkus normalitas.
Di Pantry Sub, di antara zine yang berpindah tangan, puisi yang dibacakan, dan orang-orang yang pulang dengan membawa cerita yang saling bersinggungan, pembangkangan itu terasa sangat manusiawi.

